KEDIRI KOTA || Detik24jam.id – Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si., mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat persatuan, menjaga kerukunan, serta membangun komunikasi dan kolaborasi dalam menjaga keamanan Kota Kediri.
Pesan tersebut disampaikan Kapolres saat menghadiri Dialog Kebangsaan “Merawat Bhinneka Tunggal Ika, Memperkuat Persatuan Bangsa di Tengah Polarisasi dan Ruang Digital” bersama Forkopimda Kota Kediri di Ruang Jayabaya, Kantor Pemerintah Kota Kediri, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.15 hingga 12.00 WIB tersebut mempertemukan unsur Forkopimda dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, mahasiswa, insan pers, komunitas, serta berbagai perguruan pencak silat di Kota Kediri.
Forum tersebut menjadi momentum penting bagi Kapolres untuk membangun komunikasi langsung dengan berbagai elemen masyarakat, sekaligus menyatukan komitmen menjaga Kota Kediri tetap aman, rukun dan kondusif.
Dalam sambutannya, AKBP Kresno menegaskan bahwa dialog kebangsaan bukan sekadar forum seremonial, melainkan ruang komunikasi dua arah untuk mencari solusi bersama atas berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
“Kegiatan dialog ini sangat baik. Saya berharap forum ini digunakan untuk komunikasi bersama dan menyatukan pikiran bagaimana kita menjaga dan memajukan Kota Kediri,” ujar AKBP Kresno.
Kapolres menyadari bahwa menjaga keamanan dan ketertiban tidak dapat dilakukan kepolisian seorang diri. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh pemuda, organisasi mahasiswa, insan pers hingga komunitas dan perguruan pencak silat.
Karena itu, Kapolres mengajak seluruh pihak untuk memiliki visi yang sama, yakni menjaga Kota Kediri sebagai rumah bersama.
“Tujuan saya ingin menjaga hubungan baik dengan teman-teman semuanya dan berjalan seiringan demi memajukan Kota Kediri,” tegasnya.
Salah satu perhatian Kapolres dalam dialog tersebut adalah keberadaan berbagai perguruan pencak silat di Kota Kediri. Menurutnya, banyaknya perguruan silat bukanlah persoalan, melainkan potensi besar yang dapat menjadi kekuatan positif apabila seluruhnya mampu bersatu dan berkolaborasi.
Kapolres bahkan mendorong para pengurus perguruan silat untuk bersama-sama melakukan pembinaan terhadap anggotanya, terutama generasi muda.
Ia menyoroti masih adanya aktivitas konvoi yang melibatkan anggota perguruan silat di bawah umur yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan.
“Kalau seandainya ada perguruan silat di bawah umur sedang melakukan konvoi, kita upayakan kawal agar tidak terjadi permasalahan. Tetapi apakah kita mau seperti itu terus? Kita harus mencari solusi agar kegiatan seperti itu tidak dilakukan,” ungkapnya.
Menurut AKBP Kresno, solusi tidak cukup hanya mengandalkan pengamanan kepolisian. Diperlukan peran aktif para pengurus perguruan untuk mampu mengendalikan dan membina anggotanya.
Kapolres juga mengajak seluruh perguruan silat membangun citra positif sehingga keberadaannya tidak menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
“Kita wujudkan bahwa organisasi pencak silat tidak menjadi ketakutan bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia bahkan membuka ruang komunikasi seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menyampaikan apabila menemukan potensi persoalan maupun perilaku anggota yang dapat mengganggu kondusivitas.
“Kalau rekan-rekan semua punya visi menjaga Kota Kediri, saya yakin kerusuhan tidak terjadi,” imbuhnya.
Selain persoalan keamanan, Kapolres juga memberikan perhatian serius terhadap dinamika informasi di ruang digital. Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak benar dapat dengan cepat memicu kesalahpahaman dan berkembang menjadi konflik di masyarakat.
Kapolres meminta insan pers maupun masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi setiap informasi yang beredar. Informasi harus disaring dan diverifikasi sebelum disebarluaskan.
“Untuk wartawan, beritakan sesuai kenyataan dan harus difilter terlebih dahulu mana yang harus diposting dan tidak diposting. Jangan sampai memberikan berita yang menimbulkan konflik atau masalah baru,” pesannya.
Ia juga menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kritik harus disampaikan secara konstruktif, dengan tetap memperhatikan etika dan tidak memprovokasi masyarakat.
“Mengkritik pemerintah boleh, akan tetapi harus dikontrol bagaimana cara menyampaikan kritik tersebut dengan baik,” katanya.
Dalam forum tersebut, Kapolres juga mengajak para tokoh yang hadir untuk menjadi bagian dari upaya mencegah potensi konflik. Para tokoh dinilai memiliki pengaruh besar dalam mengajak masyarakat menjaga persatuan dan menolak segala bentuk upaya yang dapat merusak keamanan Kota Kediri.
Ajakan Kapolres tersebut mendapat respons positif dari berbagai unsur yang hadir. Perwakilan perguruan silat, tokoh agama, mahasiswa dan organisasi masyarakat menyatakan komitmennya untuk ikut menjaga keamanan dan kerukunan.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, S.H., M.Kn., dalam kesempatan tersebut juga menegaskan pentingnya komunikasi dan deteksi dini. Menurutnya, persoalan harus diketahui sejak awal agar dapat segera dicarikan solusi sebelum berkembang menjadi konflik.
Sementara Kajari Kota Kediri Rivo Chandra Makarupa Medellu mengingatkan seluruh pihak agar setiap perbedaan dikembalikan pada Pancasila, hukum yang berlaku dan semangat musyawarah mufakat.
Pabung 0809 Kediri Mayor Inf. Ngatari juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kompak menjaga keamanan dan kerukunan Kota Kediri, khususnya dalam memberikan edukasi kepada generasi muda.
Sementara Ketua PWI Kota Kediri Bambang Iswahyoedhi menekankan pentingnya literasi media agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Di penghujung kegiatan, Wali Kota Kediri menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berkomitmen menjaga persatuan. Menurutnya, pembangunan Kota Kediri tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia, karakter dan kerukunan.
Bagi Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, dialog tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pola keamanan yang tidak hanya mengedepankan tindakan setelah terjadi persoalan, tetapi juga memperkuat komunikasi, pencegahan dan kolaborasi sejak dini.
Dengan sinergi antara kepolisian, pemerintah, tokoh agama, perguruan silat, pemuda, mahasiswa, media dan seluruh masyarakat, Kota Kediri diharapkan semakin solid menghadapi berbagai tantangan, termasuk polarisasi dan disinformasi di ruang digital.
Merawat kebhinekaan bukan hanya tentang menerima perbedaan, tetapi tentang bagaimana seluruh perbedaan dapat berjalan bersama untuk menjaga Kota Kediri tetap aman, rukun dan maju.
*Redaksi*

