Sampang || Detik24jam.id – Di balik kepedulian terhadap Muhlis, bocah penyandang disabilitas di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, terungkap fakta lain yang memprihatinkan.
Keluarga Muhlis yang tinggal bersama Pak Nawi disebut belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, meski kondisi rumah dan perekonomian mereka dinilai jauh dari kata layak.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, rumah Pak Nawi tidak masuk dalam kategori penerima bantuan karena tercatat dalam desil tinggi atau dianggap bukan keluarga miskin. Namun fakta di lapangan menunjukkan kondisi rumah yang sederhana dengan keterbatasan ekonomi yang nyata.
“Kalau melihat kondisi kami sehari-hari, rasanya tidak pantas disebut mampu. Tapi data yang tercatat katanya kami masuk kategori tinggi,” ungkap Pak Nawi dengan nada kecewa. Sabtu, 28/02/2026.
Ia juga mengaku, beberapa waktu lalu sempat ada pihak yang datang melakukan pengecekan. Namun setelah itu, tidak ada tindak lanjut maupun informasi lanjutan terkait kemungkinan bantuan yang bisa diterima keluarganya.
“Ada yang datang cek-cek, tanya-tanya, setelah itu pulang. Sampai sekarang tidak ada kabar lagi,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Aliansi Wartawan Sampang (AWAS), Ahmad Jumadi, menyampaikan kritik terbuka kepada pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga pendamping desa agar lebih serius dan turun langsung melihat kondisi riil masyarakat.
“Jangan hanya mengandalkan data di atas kertas. Harus turun langsung ke lokasi supaya tahu fakta sebenarnya. Kalau hanya berdasarkan angka desil tanpa verifikasi menyeluruh, bisa jadi banyak warga yang benar-benar butuh justru terlewat,” tegas Ahmad Jumadi.
Ia menilai, persoalan validitas data penerima bantuan sosial perlu dievaluasi secara menyeluruh agar tepat sasaran. Menurutnya, kasus keluarga Muhlis menjadi contoh bahwa masih ada celah dalam sistem pendataan yang berdampak pada masyarakat kecil.
AWAS berharap pemerintah daerah segera melakukan peninjauan ulang terhadap data penerima bantuan, khususnya bagi keluarga dengan kondisi khusus seperti penyandang disabilitas.
“Kami berharap ada perhatian nyata, bukan sekadar pendataan tanpa tindak lanjut,” pungkasnya.(MLDN)














