Surabaya || Detik24jam.id – Di balik pintu kedap suara sebuah hotel bintang 4 di Surabaya pada Selasa (29/9/2026) malam, dua oknum anggota dewan berinisial UAM (DPRD Kabupaten Malang) dan ADR (DPRD Banyuwangi) tampaknya sedang menikmati suasana malam. Namun, mimpi indah mereka seketika buyar ketika Satuan Narkoba Polrestabes Surabaya datang mengetuk pintu. Bukan sekadar drama tepergok sekamar, tes urine keduanya langsung menunjukkan hasil yang kompak dan meyakinkan: positif sabu. Sebuah skenario jumpscare nyata yang mengubah malam santai di hotel berbintang menjadi awal mula kehancuran karier politik.
Guna meredam polemik moral yang meledak, pihak kepolisian sempat mengutip keterangan awal bahwa UAM dan ADR adalah pasangan suami istri siri. Namun, naskah “penyelamatan reputasi” itu langsung berantakan tak tersisa saat Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Banyuwangi, Suwito, angkat bicara pada Rabu (30/9/2026). Dengan nada kebingungan yang tak bisa ditutupi, Suwito meluruskan fakta lapangan: ADR sejatinya masih memiliki suami sah dan keluarga yang baik-baik saja di Banyuwangi! Alhasil, klaim nikah siri tersebut mendadak berubah dari dalih pembenaran menjadi plot twist hukum yang makin menyudutkan.
Niat hati ingin “terbang” bersama sabu dan berlindung di balik status siri, keduanya kini malah berhadapan dengan ancaman rangkap tiga: pidana narkotika, sanksi etik partai, dan delik pelanggaran pernikahan. Suwito bahkan langsung menyentil pasal kepemilikan pasangan ganda dalam KUHP (Pasal 279) terkait aturan menikah atau berhubungan tanpa izin suami/istri sah. Lupakan sejenak rapat paripurna atau penyerapan aspirasi rakyat; agenda kedua wakil rakyat ini kini berganti fokus total pada jalur persidangan dan proses pemecatan dari DPP Gerindra yang sudah memantau di garis depan.
Netizen dan warga Jawa Timur yang menyimak berita penangkapan ini pun langsung masuk ke mode overthinking massal. “Niatnya studi banding narkoba di Surabaya, malah dapat fasilitas chek-in gratis di sel Polrestabes,” atau “Definisi ‘suami siri’ yang paling magis: di Surabaya ngaku istri orang lain, di Banyuwangi masih ada suami sah yang menunggu rumah.” Kejadian ini benar-benar pelajaran pahit bahwa kelakuan buruk yang ditutup-tutupi di balik pintu hotel mahal, pada akhirnya bakal dibongkar habis oleh tes urine dan konfirmasi kolega sendiri.
Pada akhirnya, tragedi di hotel Surabaya ini mengajarkan kita satu hal: Di mata hukum, etika, dan kebenaran, status wakil rakyat itu bukan tameng kebal hukum dari konsumsi narkoba maupun perselingkuhan. Pelajarannya buat para pejabat publik di luar sana: Jika ingin cari ketenangan atau hiburan, gunakanlah cara yang halal dan legal karena dari kamar hotel bintang 4 ke baju tahanan oranye Polrestabes, jalurnya ternyata cuma sejauh alat tes urine dan kejujuran Ketua Fraksi.
*REDAKSI*

