Khofifah Tinjau Kekeringan di Sampang, Salurkan Air Bersih — 24 Daerah Jatim Tetapkan Status Kedaruratan

by

Sampang || Detik24jam.id — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung meninjau kondisi warga terdampak kekeringan sekaligus menyalurkan bantuan air bersih di Desa Kedungdung, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Kamis (17/9/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di tengah musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur.

 

Khofifah didampingi Bupati Sampang H. Slamet Junaidi beserta jajaran perangkat daerah terkait. Kehadirannya disambut warga yang selama ini menghadapi kesulitan akses air bersih akibat kekeringan yang berkepanjangan.

 

Dalam keterangannya, Khofifah menjelaskan bahwa 24 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menetapkan status kedaruratan kekeringan melalui keputusan masing-masing kepala daerah. Langkah penanganan dari pemerintah provinsi sifatnya melengkapi dan memperkuat upaya yang sudah berjalan di tingkat daerah.

 

“Masing-masing kabupaten dan kota sudah mengintervensi kebutuhan air bersihnya. Jadi kehadiran kami sifatnya mensubstitusi, komplementaritas, menguatkan dan melapisi dari yang sudah dilakukan oleh kabupaten dan kota,” ujar Khofifah.

 

Selain bantuan air bersih, pemerintah provinsi juga menyalurkan kebutuhan pokok di sejumlah lokasi yang dikunjungi. Bantuan ini dimaksudkan sebagai dukungan tambahan bagi penanganan yang telah dilakukan pemerintah kabupaten/kota.

 

Khofifah juga menyebutkan soal rencana pelaksanaan salat istisqa sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan, namun di Sampang hal itu perlu mempertimbangkan masa panen tembakau warga.

 

“Di beberapa titik saya sudah usul untuk salat istisqa. Tapi rupanya di sini sedang panen tembakau. Kalau turun hujan, kualitas tembakaunya nanti kurang maksimal,” ungkapnya.

 

Untuk solusi jangka panjang, pemerintah akan melakukan pemetaan potensi sumber air serta pembangunan sumur bor secara lebih terukur. Khofifah menyampaikan bahwa pengeboran memerlukan kajian teknis karena kondisi tanah setiap wilayah berbeda, bahkan ada lokasi yang harus dibor hingga kedalaman ratusan meter. Apabila ditemukan sumber air yang memadai, distribusi melalui jaringan perpipaan dapat diupayakan hingga jarak belasan kilometer.

 

“Kita pernah melakukan itu di banyak tempat. Kalau sumber airnya cukup, bisa ditarik sampai 17 kilometer,” jelasnya.

 

Pembangunan embung atau waduk juga akan dikaji terlebih dahulu untuk menentukan lokasi dan potensi yang paling tepat guna.

 

*REDAKSI*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *