Gresik || Detik24jam.id – Pengungkapan 3,37 ton ganja yang diduga berasal dari Thailand di kawasan pergudangan Prambanan Bizland, Kecamatan Cerme Gresik, bukan operasi yang berlangsung dalam hitungan jam. Kasus ini terbongkar melalui rangkaian penyelidikan panjang yang dimulai dari temuan mencurigakan di Pelabuhan Tanjung Priok hingga berakhir di sebuah gudang penyimpanan di Gresik.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai RI, Letjen Djaka Budi Utama, mengatakan operasi tersebut merupakan hasil kerja bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Badan Narkotika Nasional ( BNN ) dalam membongkar jaringan narkotika internasional yang diduga melibatkan Cina, Malaysia dan Thailand.
Tahap awal pengungkapan bermula ketika petugas menemukan anomali terhadap barang dan komoditas yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok pada (29/06). Temuan tersebut memunculkan kecurigaan petugas bahwa isi cargo merupakan narkotika sehingga dilakukan analisis, pemeriksaan, dan pendalaman intelijen.
Setelah petugas yakin, aparat tidak langsung melakukan penyitaan. Tim gabungan memilih menerapkan metode control delivery, yakni membiarkan barang tetap bergerak di bawah pengawasan ketat untuk mengungkap penerima dan gudang penyimpanannya.
Perjalanan barang kemudian dipantau dari Jakarta melalui jalur darat, Dalam pengembangannya, petugas lebih dahulu mengamankan sekitar 22 kilogram Marijuana (Ganja) di Purwakarta, Jawa Barat.
“Temuan itu menjadi pintu masuk bagi penyidik untuk melacak jalur distribusi yang lebih besar,” tuturnya.
Lebih lanjut disampaikan, hasil pengembangan akhirnya mengarah ke kawasan pergudangan Cerme, yang diduga dijadikan lokasi penyimpanan sementara sebelum Marijuana (Ganja) diedarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Di gudang tersebut, tim gabungan akhirnya melakukan penyergapan.
Sebanyak 3,37 ton Marijuana (Ganja) berhasil diamankan di Gudang Prambanan Bizland Gresik sehingga total barang bukti yang disita dalam operasi ini mencapai 3,37 ton.
Sementara itu, Kepala BNN RI, Komjen Pol Suyudi Ario Seto, mengatakan modus operandi yang dilakukan para pelaku yakni dengan melakukan importasi jalur resmi namun menyembunyikan narkotika kedalam 500 koper dan 800 ball kardus latex.
“Kami mengamankan 12 orang, termasuk seorang warga negara Malaysia berinisial A dan dua warga negara Thailand. Sedangkan beberapa anggota jaringan lainnya diduga telah melarikan diri ke negara tetangga dan kini diburu.
“Ini bunganya. THC-nya lebih tinggi daripada yang ada di Indonesia. Kualitasnya lebih bagus yang dari Thailand,” katanya.
BNN menduga seluruh barang tersebut tidak hanya akan dipasarkan dalam bentuk konvensional, tetapi juga diolah menjadi liquid vape yang mengandung narkotika.
“Ini juga bisa diolah menjadi liquid. Arahnya memang ke sana. Makanya sebelum berkembang lebih besar, kami lakukan penindakan,” ungkap Didik.
Suyudi menegaskan operasi ini bukan sekadar menggagalkan penyelundupan, tetapi juga menyelamatkan sekitar 10.114.200 jiwa dari ancaman narkotika. Dari penyitaan sekitar 3,3 juta gram narkotika, negara juga berhasil mencegah potensi kerugian ekonomi hingga Rp4,58 triliun.
Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja intelijen yang tidak selalu terlihat publik, dipadukan dengan keberanian petugas di lapangan. la mengajak masyarakat ikut memutus mata rantai peredaran narkoba dengan menjaga anak, keluarga dan lingkungan, sekaligus menegaskan bahwa BNN akan terus memburu seluruh bandar dan jaringan narkotika hingga tuntas.
*Redaksi*













