Bulan Juni momentum Kaum Marhaen Berjuang Lebih Keras untuk Merdeka

oleh
oleh
banner 468x60

GRESIK || Detik24jam.id – Selamat datang bulan Juni. Bagi kita yang setia pada ajaran Bung Karno, bulan ini bukan sekadar perputaran bulan dan penanda kalender. Ini Bulannya para Marhaenis, bulan Juni adalah bulan Marhaen. Indonesia dalam himpitan ketidakpastian huru hara ekonomi yang saat ini nilai dolar tembus Rp.17.800 an., dianggap “rakyat kecil tidak butuh dolar” , lagi lagi rakyat marhaen terimbas pernyataan tersebut

Pernyataan ini pertanda jelas sebuah Politik Kebangsaan dan Kerakyatan sedang di pertaruhkan. Sekat kaum atas, kaum kota dengan rakyat Desa, kaum marhaen sudah mulai ditorehkan dan justru potensi sebuah pemecah belah kesatuan persatuan. Cita cita luhur rakyat marhaen senasib seperjuangan menuju sejahtera bersama berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan semakin menjauh apabila pengelolaan negara dipimpin dengan nafas nafas oligarki.

banner 336x280

 

Kaum Marhaen telah menetapkan diri bahwa Pancasila sebagai dasar filsafat dalam mengembangkan tafsiran Marhanisme. Didalam roh marhaenisme sendiri mengandung maksud Asas Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi. Sehingga setiap kebijakan pemerintah yang langsung dapat berdampak pada turunnya daya beli masyarakat terhadap kebutuhan bahan pokok, terlilit hutang pinjol, PHK terselubung disana sini, banyaknya pengangguran dan meningkatnya angka kejahatan mulai Curanmor hingga aksi begal, diam diam masyarakat kaum marhaen mengalami ketakutan ketenangan hidup terusik, maka sungguh hal ini sebuah ironis dikatakan hidup dalam bumi yang dikata gemah ripah lohjinawi, toto tentrem.

 

Bung Karno sejak sebelum tahun 1945 telah memekikkan kata ‘MERDEKA..!!’ senyatanya sampai saat ini belum mampu terasa terwujud. Kaum Marhaen sejak itu sampai sekarang masih terasa seolah berupaya berjuang dalam rangka pembebasan dari kolonial dan imperialisme, Kaum Marhaen hidup dalam “sedumuk batuk, senyari bumi” dalam rangka ngukuhi tanah garapan (tanah air). Namun disana sini juga lahir para mafia tanah yang lagi lagi kaum marhaen tidak mampu mempertahankan hak bumi yang dipijaknya.

Bulan Marhaen adalah alarm. Saatnya menggugat agar Negara betul betul menjamin apa yang diinginkan kaum marhaen bukan hanya sekedar nation building dan charakter building tetapi juga tentang persamaan nasib, mengokohkan rasa patriotisme berdasarkan Hubbul Wathan minal iman (Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman).

 

Nafas oligarki adalah musuh Sosio-Demokrasi. Ia menjauhkan cita-cita sejahtera bersama, berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Dengan semangat bulan Marhaen saatnya menggugat moral pemerintah dengan cara cara hidupkan demokrasi yang sehat, sambil bergerak menjawab dengan kerja kolektif dan gebrak meja kebijakan.

Bung Karno sudah wanti-wanti: ” Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri yang akan berdiri kuat”.

 

Selamat datang Bulan Marhaen. Kemiskinan tidak dilawan dengan bansos, hibah, dan belas kasihan. *Lawan dengan memberikan keadilan, rasa aman dan tenang dengan redistribusi, dengan semangat Berdikari.*

Cukup sudah kaum Marhaen jadi objek statistik BPS. Saatnya jadi subjek yang menentukan arah republik.

“Merdeka..!!!”

 

(Oleh: Andi Fajar Yulianto / Dir. YLBH Fajar Trilaksana).

 

“Redaksi”

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.