Bupati Sampang Beserta Istri Turun Langsung ke Ibu Saedeh di Desa Gulbung Pangarengan 

oleh
oleh
banner 468x60

SAMPANG || Detik24jam.id – Potret pilu kehidupan seorang nenek renta bernama Saedeh (76), warga Dusun Srapong, Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang, perlahan mengetuk hati banyak pihak. Di usia senja yang seharusnya diisi dengan ketenangan, ia justru harus berjibaku melawan kerasnya hidup seorang diri, tanpa keluarga yang mendampingi.

 

banner 336x280

Kisah memilukan ini tak hanya menggerakkan hati Ketua Aliansi Wartawan Sampang (AWAS), Achmad Jumaadi, yang turun langsung memastikan kondisi Saedeh. Perhatian juga datang dari Bupati Sampang, Slamet Junaidi, bersama istrinya, Ketua TP PKK Kabupaten Sampang, Evi Slamet Junaidi, yang menyambangi kediaman sang nenek pada Jumat (24/4/2026).

 

Dalam sebuah unggahan akun TikTok @KabupatenSampang, tampak Bupati Slamet Junaidi dan Evi datang mengendarai vespa biru, didampingi jajaran Forkopimcam Pangarengan. Kedatangan mereka disambut senyum haru Saedeh, yang seakan menemukan secercah harapan di tengah keterbatasan hidupnya.

 

Kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi. Bupati bersama rombongan menyerahkan bantuan berupa paket sembako lengkap serta uang tunai untuk meringankan beban hidup Saedeh. Momen itu pun menjadi penguat semangat bagi lansia tersebut untuk terus bertahan menjalani hari-harinya.

 

Evi Slamet Junaidi menyampaikan rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk berbagi kepada warga yang membutuhkan, khususnya di momentum Jumat berkah.

“Alhamdulillah, hari ini kita bisa kembali berbagi di Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan. Insya Allah, semoga kita semua yang hadir diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah SWT, amin,” ujarnya.

 

Tak hanya itu, Evi yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial juga meminta tim kesehatan dari puskesmas setempat untuk segera memeriksa kondisi Saedeh.

“Tolong dicek kesehatan ibu ini. Semoga nenek Saedeh selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT sepanjang usianya,” tambahnya.

 

Sebelumnya diberitakan, kehidupan Saedeh memang jauh dari kata layak. Di tengah keterbatasan fisik, ia tetap berjuang mencari nafkah demi menyambung hidup. Setiap pagi, dengan langkah tertatih, ia mengumpulkan daun pisang untuk dijual ke pasar. Sesekali, ia juga memungut barang bekas untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

 

Lebih menyayat hati, tempat tinggal yang ia huni nyaris tak mampu melindunginya dari panas dan hujan. Dinding rumah hanya terbuat dari kain bekas, tanpa atap yang memadai. Untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), Saedeh hanya mengandalkan fasilitas seadanya yang sangat memprihatinkan.

 

Kisah Saedeh menjadi cermin nyata bahwa masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan ekstrem. Namun, di balik itu semua, kepedulian berbagai pihak telah menghadirkan harapan baru—bahwa ia tidak sepenuhnya sendiri menghadapi kerasnya kehidupan. (MLDN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.