Sampang || Detik24jam.id – Pemerintah Kecamatan Jrengik menggelar rapat Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Pra-Musrenbangcam) dengan membahas sejumlah isu strategis lintas sektor. Fokus pembahasan meliputi penanganan banjir, pembangunan infrastruktur, penguatan sektor pertanian, serta pemerataan layanan dasar bidang kesehatan.
Rapat tersebut dipimpin langsung Camat Jrengik Choirul Anam yang akrab disapa Yayoe. Kegiatan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Jrengik, di antaranya Danramil dan Kapolsek Jrengik, Kepala Puskesmas Jrengik, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Jrengik, pendamping desa, serta kepala desa dan PJ kepala desa se-Kecamatan Jrengik.
Dalam paparannya, Choirul Anam menyampaikan bahwa Pemerintah Kecamatan Jrengik telah melakukan koordinasi dengan lintas sektor terkait, di antaranya PUSDA Jawa Timur dan Balai Besar Jalan Nasional. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya awal penanganan banjir, termasuk melalui sosialisasi dan edukasi pembentukan DESTANA (Desa Tangguh Bencana).
“Dari 14 desa di Kecamatan Jrengik, baru tiga desa yang telah membentuk DESTANA. Sosialisasi terus kami dorong agar desa lainnya segera menyusul,” ujar Choirul Anam, Senin (26/1/2026).
Sebagai bagian dari mitigasi bencana, pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa telah melakukan penanaman 1.000 pohon di bantaran Sungai Penyiburan. Selain itu, penanaman 1.000 pohon juga dilakukan di Desa Kotah guna memperkuat kawasan resapan air.
Terkait penanganan banjir, Camat Jrengik menjelaskan bahwa PUSDA Jawa Timur telah melakukan normalisasi Sungai Penyiburan. Namun, hasil normalisasi yang masih berupa tanggul tanah dinilai berpotensi jebol saat debit air meningkat.
“Urugan tanah hasil normalisasi masih rawan jebol ketika debit air tinggi. Harapannya ke depan dapat dibangun bronjong atau penguatan permanen agar luapan Sungai Penyiburan tidak kembali terjadi,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan Balai Besar Jalan Nasional terkait rencana pembangunan saluran drainase di sisi utara jalan nasional sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer, mulai dari Desa Penyepen hingga wilayah barat jembatan di Desa Jrengik.
Rencana tersebut dinilai mendesak karena sejak peninggian badan jalan nasional, luapan air semakin meluas ke wilayah Desa Jrengik dan Desa Taman. Untuk mempercepat penguraian genangan, juga direncanakan pembangunan tiga titik crossing di Desa Penyepen, Desa Taman, dan Desa Jrengik agar aliran air lebih cepat menuju sisi selatan jalan nasional.
Di sektor pertanian, Choirul Anam menegaskan bahwa Kecamatan Jrengik merupakan salah satu lumbung pangan Kabupaten Sampang dan berada di peringkat kedua sebagai daerah penyuplai produksi gabah.
“Tahun ini telah dibangun Earpom melalui program Kementerian Pertahanan yang mampu mengairi sekitar 40 hektare sawah. Ke depan juga akan dilaksanakan pelatihan pertanian, termasuk pelatihan pembuatan pupuk,” ungkapnya.
Sementara pada sektor layanan dasar, pemerintah kecamatan memfokuskan perhatian pada bidang kesehatan. Mengacu pada Permenkes Nomor 19, seluruh desa wajib didukung sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Oleh karena itu, rehabilitasi dan peningkatan fasilitas kesehatan, termasuk polindes di 14 desa, menjadi prioritas.
Salah satu rencana strategis yang dibahas adalah pengajuan alih fungsi bangunan bekas Sekolah Dasar Negeri di Desa Jrengik menjadi fasilitas layanan kesehatan. Bangunan tersebut masih memiliki dua ruang kelas dalam kondisi baik dan saat ini tengah dalam proses verifikasi data oleh instansi terkait.
Melalui rapat Pra-Musrenbangcam ini, Camat Jrengik berharap seluruh usulan strategis yang telah dirumuskan dapat menjadi prioritas dalam Musrenbang tingkat kecamatan hingga kabupaten, sehingga pembangunan dapat berjalan merata dan berdampak langsung bagi masyarakat. (MLDN)

