Puting Beliung Nyaris Sentuh Jembatan Suramadu, Nelayan Langsung Menepi

by

Bangkalan || Detik24jam.id — Angin puting beliung yang terjadi di perairan Kecamatan Labang atau di dekat Jembatan Suramadu, Madura, Jawa Timur pada Rabu (22/4/2026), membuat nelayan setempat khawatir. Bahkan, salah satu nelayan langsung pergi menepikan perahunya.

 

Dalam sebuah rekaman video, seorang nelayan terlihat berada di dalam perahu bersama jaringnya saat hendak berangkat melaut.

 

Namun, setibanya di tengah laut, angin puting beliung berputar di air dan membuat gerakan air di laut semakin bergelombang.

 

“Opo iki rek, tulong aku rek,” ucap nelayan dalam video sambil membawa perahunya pergi.

 

Kepala Bidang Kedaulatan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan, Arif Rahman Surya Atmaja, mengatakan bahwa puting beliung itu terjadi akibat adanya perubahan cuaca ekstrem dari musim hujan ke musim kemarau. Sehingga menimbulkan tumpukan awan cumulonimbus disertai angin.

 

“Sehingga terjadilah angin puting beliung di Selat Madura dan mengakibatkan adanya gelombang di lokasi tersebut,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

 

Pria yang akrab disapa Yayak itu juga mengatakan, fenomena puting beliung itu biasanya terjadi dalam durasi singkat selama satu hingga lima menit.

 

Meski begitu, dia mengatakan, angin tersebut cukup berbahaya bagi nelayan dan masyarakat pesisir.

 

“Makanya kami imbau agar masyarakat dan nelayan segera Menepi jika angin itu terjadi di tengah laut,” katanya.

 

Angin puting beliung tersebut berpotensi akan merusak perahu dan merusak bangunan jika terjadi di dekat perahu ataupun pemukiman warga.

 

“Dalam skala besar bisa terjadi tornado, namun belum pernah terjadi di sini,” jelasnya.

 

Hingga kini, belum ada laporan korban dari kejadian tersebut. Yayak juga mengaku laporan kerusakan di wilayah pesisir juga belum ditemukan.

 

“Sampai saat ini masih belum ada, semoga saja tidak ada korban,” katanya.

 

Yayak mengatakan, fenomena puting beliung bukan sekali terjadi. Peristiwa alam tersebut pernah terjadi di tahun 2024, namun tak menimbulkan korban.

 

“Pernah juga tahun lalu terjadi di pesisir Bangkalan dan merusak tepat makan,” pungkasnya. (MLDN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *